Cita-Cita Menuruti Kenginan Orang Tua Atau Kebutuhan Diri Sendiri

Yang terbaik bagi kita, belum tentu sama untuk orang lain, termasuk orang tua. Kadangkala, dalam beberapa hal, sudut pandang kita dalam menilai atau memilih sesuatu bersebrangan dengan kacamata orang tua. Nggak cocok gitulah.

Sudut pandang yang bersebrangan itu yang bikin langkahmu serba salah. Dalam konteks cita-cita, banyak banget kasus orang tua pengin kamu jadi ini, namun kamu penginnya itu. Nah, kalo dari awal udah nggak sepemikiran, ya akan jadi bumerang. Proses yang kamu tempuh pun dijalankan setengah-setengah, bahkan yang parah, kamu nggak jadi diri sendiri..

Ketika orang tua memilihkan cita-cita yang nggak seperti yang kamu butuh, apakah hanya harus berpasrah, lalu menjalaninya setengah-setengah? Di tengah jalan kamu udah nggak sanggup dan semuanya berantakan, mereka marah dan kecewa, lantas kamu yang menyalahkan,  “Ini, kan, bukan pilihan aku. Jangan salahkan aku! Ini kenginan Mama sama Papa.

.”Gue melakukan hal ini buat orang tua, bukan buat gue, jadi untuk apa gue melakukan sepenuh hati?

Nggak sesederhana itu ketika hal yang kamu lakukan adalah demi masa depan, dan itu juga bukan hal yang menjadi alasan kamu jadi benci sama orang tua karena kamu nggak bahagia dengan pilihan mereka.

Kita memang dan mungkin nggak bisa menyanggah begitu aja pendapat orang tua yang menginginkan kita jadi seperti yang mereka ingin, melihat biaya hidup kamu sejak muncul di dunia sampai detik ini ya mereka yang menanggung. Katakanlah, sebagai bentuk terima kasih dan tau diri. Oke, kita uraikan dari poin yang paling dasar.

Alasan orang tua pengin kamu jadi ‘ini’, kenapa? Jawaban paling umum adalah supaya hidup kamu enak, masa tua terjamin, keluarga sejahtera. Apakah salah? Enggak, nggak salah. Mereka hanya ingin yang terbaik buat kamu.

Kembali lagi, yang terbaik bagi mereka, bukan berarti terbaik buat kamu, kan? Orang tua itu butuh dimengerti, maka kamu berikan pengertian. Telisik lebih dalam. Seberapa dekat kamu dengan orang tuamu? Bagaimana sifat dan sikap mereka? Apa hal-hal yang nggak bisa kamu jangkau darinya? Kesimpulannya berupa pendekatan apa yang kira-kira tepat agar kamu punya penjelasan yang bisa membuat mereka mengerti. Untuk mencari jalan tengah supaya benar-benar menemukan pilihan terbaik. 

Ada tipikal orang tua yang otoriter. Apa pun yang mereka suruh, pinta dan pilih, ya wajib kamu lakukan, termasuk mereka mau cita-cita kamu jadi ‘ini’. Belum lagi kalo mereka, kasarnya, gampang main tangan, ketika nggak setuju atau menangkap basah kamu yang sedang menggeluti atau mengeksplorasi hal yang kamu suka.

Berbeda dengan tipikal orang tua yang subtle, mereka akan memberikan kelonggaran untuk kamu mengeksplorasi bakat dan potensimu, bahkan menyodorkan kebebasan dan dukungan untuk memilih cita-cia yang kamu butuhkan.

Dari perbedaan tipikal orang tua itu, mereka tetap punya persamaan: menginginkan yang terbaik untuk dirimu.

Untuk mendapatkan ‘pilihan yang terbaik‘, kadang kita hanya harus menerima apa yang sudah dipilihkan, dengan kata lain, menuruti keinginan orang tua. Namun apakah kamu ikhlas menerimanya? Silakan. Namun, bila setelah kamu pikir dan pertimbangkan, itu nggak sesuai dengan pilihan kamu, maka perjuangkan.

Bila kamu punya cita-cita yang menjadi opsi terbaik untuk masa depan, maka utarakan kepada orang tua dengan approach yang cocok. Juga minta bantuan Tuhan, karena Dialah yang Maha Pengubah Hati. Kemas kalimat yang paling mudah dimengerti, prospek jangka panjang, dan yang terpenting, kamu dengan senang hati menjalani prosesnya sampai kamu meraih cita-cita itu, alias jadi ‘orang’. Jangan sampai kamu memilih hanya dasar suka tertarik, tapi pas udah dijalanin malah ngerasa salah jalan. Saat kalimat penjelasan udah ada di kepala, ciptakan momen yang tepat untuk dijabarkan. Ini sama kayak kamu mau nembak gebetan. Cukup bikin keringet dingin deg-deg syeeer~

Sampaikan dengan sopan dan nada yang enak didengar, bukan berarti kayak nyanyi, tapi nada seorang anak yang minta restu supaya orang tua kamu mau mendengar dan mempertimbangkannya. Kalo udah terlihat gelagat nggak suka/menolak dan terdengar kalimat nggak setuju, jangan langsung panik atau marah-marah. Keluarin senjata pamungkas: menangis memohon, berlutut. Jangan gengsi sama orang tua sendiri.

Jelasin bahwa kamu membutuhkan cita-cita seperti yang kamu impikan di masa depan. Kamu bersedia bersungguh-sungguh menjalani prosesnya, yang juga bertujuan supaya orang tua bangga dan bahagia punya anak seperti kamu.

Niscaya sekeras apa pun sifat orang tuamu, dia perlahan akan luluh seperti batu yng ditetesi air perlahan-lahan. You are their child. Inshaa Allah batin orang tuamu terketuk untuk setuju dengan pilihanmu. Semoga.

Cita-cita adalah sesuatu yang harus kamu perjuangkan selagi masih ada kesempatan atau kamu menuruti keinginan orang tuamu pun, itu pilihan kamu. Pilihlah pilihan yang membuat kamu bahagia. So, cita-citamu menuruti keinginan orang tua atau kebutuhan diri sendiri?